Kumpulan Puisi

Buku Harian Yang Hilang

HITAM YANG KELAM

Andaikan Harus, Aku Beranjak Pulang
Mestikah Ku Bawa Kerikil – Kerikil Ini
Ketika Kaki, Terpaksa Juga Melangkah
Mengapa Harus Luka Yang Aku Tinggalkan

Ratapan, Tak Ubah Bagai Impian
Begitu Lembut Mengoyak Nurani Ku
Banyak Ingin Terbersit Di Benak Ku
Namun Semua Hanyalah Bayang – Bayang

Engkau Adalah Aura Ku
Namun Engkau Juga Air Mata Ku
Engkaulah Hitam Ku Yang Kemarin
Benar – Benar Hitam Ku Yang Kelam

Karya : Marthin Manalu

MERPATI YANG TAK PERNAH LAYAK

Ketika Diri Hanya Mampu Termenung
Dalam Derap Sang Malam Mengabarkan Keheningan
Masih Tersisa Seonggok Duri Yang Tak Henti Merenung
Makin Larut Semakin Menusuk Dalam Rengkuh Kenistaan

Bilakah Semuanya Ini Akan Berlalu
Mungkinkah Akan Tergantikan Kehinaan Ini
Mengapa Mesti Kelabu Yang Selalu Abu – Abu
Penyesalan, Tak Menggantikan Dusta Menjadi Bijak

Ada Kata Enggan, Yang Baru Ku Pelajari Pagi Tadi
Membuatku Miris Tersudut Dipojok Yang Rapuh
Kemanakah Gerangan Perginya Merpati Keyakinan Ku
TUHAN Ku, Masih Tak Layak Jugakah Diri Ku

Karya : Marthin Manalu

HAWA, CINTA DAN SURGA

Bagai Rembulan Yang Terlelap Dalam Genggaman
Begitu Tersamar, Dingin Yang Kau Rengkuh Di Dada Ku
Kau Berikan Sinar Yang Merasuk Penuh Akan Hangat
Namun Semua Itu Hanyalah Puing – Puing Kebekuan Hati

Masih Terlampau Pagi Angan – Angan Itu Kau Titip Di Benak Ku
Entah Menjadi Harap Atau Berujung Kecemasan Rasa
Cinta Ini … Akankah Sekedar Kesia – siaan
Ataukah Mungkin Hanyalah Panggung Permainan Hati

Apa Yang Terjadi Dengan Batin Yang Tersiksa
Melihat Surga Yang Semu Dari Mata Seorang Hawa
Aku Akan Kembali Untuk Mempertanyakan Cinta
Tapi Bukan Untuk Pertaruhkan Rasa Dan Cinta Ini

Karya : Marthin Manalu

DENDAM SI ANAK MALAM

Hari Ini, Bertahan Hidup Adalah Demi Mimpi Ku
Seperti Pagi Ini, Demi Bermimpi Aku Mesti Terjaga
Terbangunkan, Ditemani Mendung Yang Berkacambah
Entah Kemana Pergi, Kicauan Camar Yang Kemarin

Jejak Pendakian Ini Terasa Menjadi Semakin Terjal
Tapi Bertambah Jelas, Rimba Mana Yang Mesti Ku Jelajah
Tak Peduli Akan Terik Ataupun Tapak Yang Teriris
Turuti Langkah Ini, Besarkan Hari Bersama Dendam

Ketika Senja, Telah Lelah Mengitari Alam Raya
Menyisakan Temaram, Di Ufuk Megananda
Seantero Langit, Telah Menjadi Lebih Indah
Namun Batin Ini, Tetaplah Jeritan Si Anak Malam

Karya : Marthin Manalu

CAMAR YANG TERLUKA

Dalam Diam Kau Sembunyikan Semua Kepedihan Mu
Kepakan Mu Pun Dengan Irama Sendu Tak Menentu
Kau Tinggalkan Sarang Tanpa Tau Yang Kau Tuju
Seperti Malam Kau Pulang Penuh Ketergesaan

Helai Sayap Yang Kau Bersihkan Penuh Akan Penyesalan
Ranting Yang Kau Pijak Adalah Semak, Onak Dan Duri
Entah Kemana Lagi Kepakan Mu Menghantar Pergi Mu
Akankah Cakrawala Yang Mampu Menjawab Nya

Ketika Terik Nya Hari Telah Menuju Ke Arah Senja
Dan Ketika Kepakan Mu Mulai Mengantar Mu Pulang
Ada Perih Yang Turut Pulang Bersama Dengan Mu
Untaian Kepedihan Yang Telah Begitu Larut Menjaga Mu

Dalam Bimbang Kau Telusuri Jalan Mu Pulang
Walau Berteman Ratapan Tetap Kau Lintasi Cakrawala
Kesetiaan Tuk Tetap Tunjukan Ketegaran Mu
Ketegaran Yang Penuh Rintihan Sang Camar Terluka

Karya : Marthin Manalu

UNTUK SEORANG SAHABAT

Ketika Kicauan Burung Membangunkan Ku Dari Tidur Malam Ku
Ada Canda Mu Semalam Yang Begitu Segar Dalam Ingatan Ku
Atau Ketika Mentari Pagi Menyadarkan Aku Akan Datangnya Hari
Masih Tersimpan Tawa Indah Mu Penghantar Tidur Ku Semalam

Banyak Tebing Terjal Yang Aku Jalani Bersama Penghiburan Mu
Tak Terhitung Pendakian Panjang Kulalui Seiring Penantian Mu
Kesetiaan Mu Mendampingi Segala Kegusaran Dalam Kehidupan Ku
Apakah Ada Yang Pantas Kuberi Tuk Membalas Kesemuanya Itu

Engkau Lebih Dari Sekedar Peraduan Tidur Malam Ku
Lebih Dari Perhentian Dari Segala Rasa Penat Ku
Hadir Mu Menghangatkan Gelap Panjang Malam Ku
Bayang – Bayang Mu Memaksa Aku Selalu Bermimpi

Sahabat Ku Engkau Anugerah Terindah Ku
Tak Akan Sia – Sia Hari Ku Jalani Bersama Mu
Cuma Penggalan Doa Semoga Bahagia Menyertai Mu
Dan Biarkan Keindahan Mewarnai Sisa Hari – Hari Mu

Karya : Marthin Manalu

KASIH MU BUNDA

Masih Jelas Kurasakan Lembut Nya Belaian Mu
Tangan Yang Membimbing Keseharian Hidup Ku
Mengajari Aku Tuk Mengerti Keras Nya Kehidupan
Menempa Ku Menjadi Tegar Dalam Setiap Kemelut

Wajah Yang Tak Pernah Kusut Menemani Ku
Keceriaan Meski Teramat Sering Aku Menyakiti Nya
Tetap Tersenyum Meski Begitu Banyak Badai Menerpa Mu
Entah Apa Yang Ada Didalam Benak Mu Wahai Bunda

Seiring Dengan Bergulirnya Perjalanan Sang Waktu
Jemari Gemulai Yang Perlahan Mulai Bergetar
Dagu Yang Sudah Tidak Lagi Seanggun Masa Muda Mu
Dan Kecantikan Yang Perlahan Termakan Oleh Usia

Namun Semua Itu Tak Membuat Luntur Kasih Mu
Tak Pernah Mampu Merubah Bentuk Rasa Sayang Mu
Adakah Daya Untuk Membalas Kesemuanya Itu
Masih Cukupkah Waktu Untuk Ku Mohonkan Ampunan Mu

Bunda Oh Bunda, Ampuni Lah Anak Mu Yang Malang Ini
Masih Sempat Kah Kutebus Harga Kesemua Nya Itu
Mampukah Ku Balas Kesabaran Mu Membesarkan Ku
Oh Tuhan, Bilakah Waktu Itu Akan Segera Tiba

Karya : Marthin Manalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: